Bang Har (Alumni Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi, Unifa)
OPINI - Dalam perspektif ilmu komunikasi, hidup sebagai bentuk ibadah dibandingkan dengan hidup bergaya menjadi relevan dengan sejumlah teori komunikasi yang menekankan pada nilai-nilai, tujuan, dan makna dalam interaksi manusia. Salah satu teori yang dapat kita pahami dalam konteks ini adalah teori makna simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead.
Teori makna simbolik menekankan bahwa manusia berinteraksi dengan dunia sekitarnya melalui makna simbolik yang diberikan pada objek, kata, dan tindakan. Dalam konteks ini, hidup untuk beribadah bisa dianggap sebagai memberikan makna yang mendalam pada setiap aspek kehidupan, menjadikan setiap tindakan sebagai ekspresi nilai-nilai spiritual yang bertujuan mencapai pahala di akhirat.
Kontrastnya, hidup bergaya seringkali dikaitkan dengan representasi diri dalam ranah sosial. Teori dramaturgi sosial Erving Goffman dapat diaplikasikan di sini, di mana individu dilihat sebagai aktor yang berperan dalam panggung sosial. Berfokus pada gaya hidup mungkin menciptakan citra yang menarik dalam masyarakat, namun hal ini dapat dianggap sebagai "peran" yang bersifat sementara dan terkadang kurang memiliki kedalaman makna.
Selain itu, teori ketergantungan media juga relevan dalam menggambarkan perbedaan antara hidup untuk beribadah dan hidup bergaya. Hidup untuk beribadah mengarahkan perhatian pada sumber nilai spiritual dan moral, sedangkan hidup bergaya sering kali terjerat dalam ketergantungan pada citra sosial yang dipromosikan oleh media massa. Ini menciptakan dinamika di mana individu mungkin lebih memperhatikan tanggapan sosial daripada nilai sejati yang terkandung dalam perbuatan baik.
Dalam konteks komunikasi interpersonal, hidup untuk beribadah juga dapat dikaitkan dengan konsep empati dan kepedulian sosial. Teori komunikasi empatik menggarisbawahi pentingnya memahami dan merasakan perasaan orang lain. Hidup untuk beribadah membangun hubungan yang lebih dalam dengan sesama, berfokus pada kepedulian terhadap kebutuhan spiritual dan moral, bukan sekadar penampilan sosial.
Dalam ilmu komunikasi, gaya hidup menjadi fenomena kompleks yang mencerminkan interaksi manusia dengan lingkungan sosialnya. Teori dramaturgi sosial Erving Goffman dapat diterapkan untuk menggambarkan gaya hidup sebagai peran sosial yang dipertontonkan dalam panggung kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, individu dianggap sebagai aktor yang berusaha mempresentasikan diri secara sesuai dengan norma-norma sosial untuk mendapatkan akseptasi dan pemahaman dari lingkungan sekitarnya.
Selain itu, teori ketergantungan media menyoroti peran media massa dalam membentuk dan mempengaruhi gaya hidup. Informasi yang diterima melalui media dapat membentuk persepsi dan nilai-nilai yang membentuk pola hidup seseorang. Teori ini menunjukkan bahwa individu dapat menjadi tergantung pada citra dan tren yang dipromosikan oleh media, mempengaruhi pilihan gaya hidup mereka.
Dalam dimensi komunikasi interpersonal, gaya hidup dapat dijelaskan dengan teori komunikasi identitas. Komunikasi identitas menyoroti bagaimana individu menyusun citra diri mereka melalui interaksi dengan orang lain. Pilihan gaya hidup, termasuk preferensi konsumsi dan kegiatan sosial, menjadi bagian dari proses ini, mencerminkan bagaimana seseorang ingin dilihat oleh orang lain.
Jadi, gaya hidup tidak hanya menjadi aspek personal, tetapi juga hasil dari interaksi, pengaruh media, dan upaya membangun identitas. Memahami fenomena ini membuka pintu untuk eksplorasi lebih lanjut tentang bagaimana komunikasi memainkan peran penting dalam membentuk dan merepresentasikan gaya hidup modern.
Dengan demikian, dalam perspektif ilmu komunikasi dan teori-teorinya, hidup untuk beribadah bukan bergaya memperkuat nilai-nilai yang mendalam, membangun makna yang kaya pada interaksi sosial, dan menunjukkan keseimbangan yang baik antara individu dan masyarakat dalam mencapai pahala bukan sekadar pujian sosial.(*)